Cover Umroh Mandiri — Bukan Soal Berani, Tapi Soal Tahu Caranya
Halaman Pembuka
Tentang Buku Ini
Untuk siapapun yang ingin umroh mandiri tapi belum tahu harus mulai dari mana

Buku ini lahir bukan dari kondisi yang tenang. Ia lahir dari obrolan tengah malam, dari rasa lelah yang sulit dijelaskan, dan dari satu pertanyaan yang tidak direncanakan: "Umroh aja gimana?"

Kami bukan ustaz. Bukan travel agent. Bukan orang yang hidupnya sedang lapang ketika memutuskan berangkat. Kami adalah pasangan biasa yang membawa anak usia 3 tahun, berangkat tanpa travel, di tengah kondisi yang justru penuh tantangan.

Dan ternyata, semuanya bisa.

Buku ini adalah semua yang kami pelajari dari yang teknis sampai yang tidak terduga. Dari cara pesan transportasi sampai bagaimana rasanya pertama kali melihat Ka'bah.

Untuk siapapun yang ingin umroh mandiri tapi belum tahu harus mulai dari mana. Buku ini untuk kamu.

Bab 1
Kenapa Kami Memilih Umroh Mandiri
Keputusan yang lahir bukan dari kondisi yang tenang

1.1 Awal Mula Keinginan Berangkat

Kalau dipikir-pikir, keputusan Umroh ini bukan lahir dari kondisi yang tenang. Justru sebaliknya. Ia lahir dari obrolan tengah malam. Obrolan yang awalnya cuma ingin saling menguatkan, tapi akhirnya membuka semuanya. Tahun 2025 bukan tahun yang mudah untuk kami. Rasanya seperti satu per satu ujian datang tanpa jeda.

Ada hutang saudara yang mau tidak mau harus kami bantu tanggung. Ada renovasi rumah orang tua yang memang sudah tidak bisa ditunda. Lalu keputusan besar itu datang — saya resign.

Keputusan resign sebagai istri dan ibu itu tidak sederhana. Di luar mungkin terlihat seperti langkah yang matang. Tapi di dalam, ada rasa takut yang tidak kecil. Satu penghasilan berhenti. Perhitungan berubah. Rasa aman yang biasa saya pegang, pelan-pelan terasa goyah.

Kami tetap menjalani hari seperti biasa. Tetap bekerja. Tetap tersenyum. Tapi malam hari sering jadi waktu paling bisa membuat air mata ini jatuh.

Dan di salah satu malam itu, setelah membahas angka, tanggung jawab, dan rasa lelah yang sulit dijelaskan, suami saya berkata pelan:

"Kayaknya kita belum benar-benar mengadu."

Kalimat itu membuat saya diam lama. Karena benar. Kami sibuk mencari solusi. Sibuk menghitung. Sibuk menyusun strategi. Tapi mungkin kami lupa untuk benar-benar datang sebagai hamba.

Lalu muncul pertanyaan yang tidak direncanakan: "Umroh aja gimana?"

Secara logika, itu terdengar tidak masuk akal. Di saat kondisi sedang berat, justru memutuskan Umroh? Tapi setelah kami diskusikan dengan baik, keputusan itu sungguh sangat bulat. Ajaibnya, kami tidak takut akan kekurangan. Kami justru yakin:

Mungkin ada dosa-dosa yang jadi penghalang. Mungkin ada kelalaian yang tidak kami sadari. Mungkin hati kami terlalu penuh dunia sampai lupa membersihkannya. Mungkin juga, Allah rindu kita mengadu dan berserah diri kepada-Nya.

Dan untuk pertama kalinya, kami berangkat umroh bukan untuk mencari solusi. Kami ingin ampunan. Kami ingin datang dan berkata:

"Ya Allah, kalau semua ini terasa berat, mungkin karena kami banyak kurangnya. Kalau ada pintu yang terasa sempit, mungkin karena kami belum cukup bersih untuk melewatinya. Ampuni kami. Ringankan kami. Tuntun kami."

Lalu dengan sangat kebetulan, ada satu kajian yang membuat kami semakin tersadar:

Perbaikilah urusanmu dengan Allah, maka seluruh urusan dunia dan akhirat, akan Allah perbaiki untukmu.

1.2 Kenapa Tidak Pakai Travel?

Awalnya kami memang berpikir akan ikut travel saja. Karena itu terasa paling mudah. Tidak perlu mengurus banyak hal. Tidak perlu pusing memikirkan detail. Tinggal ikut jadwal, ikut arahan, selesai.

Saya sempat menyimpan beberapa paket di HP. Membandingkan tanggal. Membaca rundown-nya berulang-ulang. Tapi entah kenapa, setiap kali melihat itinerary, hati saya terasa tidak lega.

Bukan karena paketnya kurang bagus. Justru bagus dan rapi. Tapi semuanya terasa cepat — 9 hari, agenda cukup padat, ada city tour, ada jadwal dari pagi sampai malam yang sudah tersusun.

Kami berangkat dengan banyak yang ingin kami bicarakan kepada Allah. Banyak yang ingin kami minta ampun. Sedangkan di paket travel yang sesuai kemampuan kami, rata-rata hanya ada waktu 2 hari bebas di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Saya tidak ingin berada di depan Ka'bah sambil memikirkan jam kumpul. Saya tidak ingin merasa harus menyesuaikan diri dengan tempo rombongan. Saya tidak ingin ibadah terasa seperti mengikuti alur wisata rohani.

Kami juga membawa anak 3 tahun. Itu artinya ritme kami pasti berbeda. Lalu ada satu hal yang dari awal kami inginkan: dua kali Sholat Jumat — satu di Masjidil Haram, satu di Masjid Nabawi.

Berbicara soal biaya — dari hasil survei, untuk kami bertiga totalnya sekitar 120 juta untuk kurang lebih 9 hari. Setelah kami hitung ulang, untuk 14 hari mandiri biayanya sekitar 100 juta. Bukan lebih murah — tapi dengan biaya yang hampir sama, kami mendapat waktu yang jauh lebih panjang dan longgar.

Karena kalau sudah mengeluarkan angka sebesar itu, kami ingin perjalanan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kami.

1.3 Alasan Membawa Anak

Salah satu keputusan yang paling lama kami pikirkan adalah membawa anak kami yang masih 3 tahun. Bukan karena kami ragu ingin mengajaknya. Tapi karena sebagai orang tua, pikiran kami otomatis memikirkan banyak kemungkinan.

Anak saya termasuk yang cukup susah makan. Di rumah saja kadang harus dibujuk. Berat badannya juga bukan tipe yang "aman kalau turun sedikit". Jadi ketika membayangkan perjalanan jauh, makanan yang berbeda, ritme yang berubah, cuaca yang tidak sama — jujur, itu yang paling sering muncul di kepala saya.

Kami sempat membicarakannya berulang. Apakah lebih baik berangkat berdua saja? Tapi setiap kali memikirkan kemungkinan itu, rasanya seperti ada yang kurang. Karena sejak awal kami membayangkan ini sebagai perjalanan keluarga.

Lagi-lagi di tengah diskusi, kami mendapatkan sebuah kajian:

Mungkin saja, rezeki yang kalian dapatkan merupakan rezeki anak di mana orang tua sebagai perpanjangan tangan Allah.

Dari kajian tersebut, mungkin saja gerakan hati untuk umroh ini merupakan rezeki anak kami juga. Oleh karena itu, dengan penuh keyakinan dan berpasrah kepada Allah, kami putuskan untuk mengajak anak kami.

Kami yakin, ketika Allah memanggil hambanya, pasti Allah juga yang akan memudahkan dan melindunginya.

Kami berangkat membawa anak hanya bermodalkan keyakinan kepada Allah bahwa semua akan baik-baik saja.

Keputusan sudah bulat. Dan begitu kami bilang iya, pertanyaan berikutnya langsung datang tanpa permisi: Harus mulai dari mana? Apa yang diurus duluan? Bagaimana supaya tidak ada yang kelewat?

Awalnya semua terasa harus dipikirkan bersamaan. Tiket, hotel, visa, transportasi — semuanya seperti datang sekaligus. Tapi setelah dijalani, kami menemukan satu kunci yang membuat segalanya terasa lebih ringan.

Bukan soal banyaknya persiapan. Tapi urutannya.

Di bab berikutnya, saya ceritakan semua yang kami lakukan, dan kenapa urutan itu penting.

Bab 2
Sebelum Mulai: Peta Besar Persiapan
Kuncinya bukan banyaknya persiapan — tapi urutannya

2.1 Timeline Persiapan Umroh Mandiri

Setelah kami memutuskan berangkat tanpa travel, yang paling terasa itu bukan "senang duluan" tapi mulai berpikir, harus mulai dari mana? Apa yang duluan?

Takut ada yang kelewat. Awalnya sempat terasa banyak banget. Tiket, hotel, visa, transport semuanya seperti harus dipikirkan bersamaan.

Tapi setelah dijalani, ternyata kuncinya bukan di banyaknya persiapan, tapi di urutannya. Karena kalau urutannya benar, semuanya jadi lebih ringan. Tidak panik di akhir. Dan yang paling penting, tidak buang uang karena salah keputusan.

Di bab ini, saya tidak cuma share "apa yang kami lakukan", tapi kenapa kami melakukannya di urutan itu.

Urutan yang Benar
  • ① Tentukan tanggal
  • ② Hotel Mekkah & Madinah
  • ③ Tiket Pesawat
  • ④ Tentukan transportasi resmi Mekkah & Madinah, dan segera booking
  • ⑤ Pengajuan Visa
  • ⑥ Booking Akses Rawdah
  • ⑦ Tafweej (jika pakai mobil)

2.2 Menentukan Tanggal & Musim

Salah satu keputusan yang cukup berpengaruh, tapi sering diremehkan adalah: pilih berangkat di bulan apa. Awalnya kami juga tidak terlalu kepikiran. Yang penting "bisa berangkat". Tapi setelah kami cari tahu, ternyata musim di Saudi itu sangat mempengaruhi kondisi fisik, kenyamanan, bahkan fokus ibadah.

Setelah dipertimbangkan, kami akhirnya memilih Januari (musim dingin).

MusimWaktuKondisiKelebihanKekurangan
Dingin
High Season
Nov–Jan 7–20°C, udara sejuk Ibadah lebih khusyuk, kuat jalan kaki, cocok bawa anak/lansia Harga hotel mahal, perlu banyak perlengkapan dingin
Ramadan/Peralihan
Super High Season
Feb–Apr Normal, bisa sangat ramai saat Ramadan Pahala berlipat saat Ramadan, nyaman beraktivitas Harga naik drastis, sangat ramai saat Ramadan
Panas
Peak Season
Mei–Sep 40–50°C, terik siang hari Hotel relatif murah, lebih sepi Sangat menguras tenaga, tidak ideal bawa anak/lansia
Peralihan Normal Okt–Mid Nov Normal Harga normal, lebih sepi dari Ramadan Tidak terlalu istimewa dari sisi ibadah
Bab 3
Akomodasi, Tiket & Transportasi
Dari Jakarta sampai Madinah — semua yang perlu dipesan dan diurus

Sebelumnya kami menjelaskan, bahwa urutan setelah menentukan musim keberangkatan dan kami punya beberapa opsi tanggal, kami tidak langsung booking pesawat. Kami justru mulai dari hotel. Karena berdasarkan pengalaman kami pengeluaran hotel itu cukup besar, jadi harus benar-benar dikontrol dari awal.

Akhirnya kami lihat dulu harga hotel di beberapa tanggal yang sudah kami tentukan, bandingkan, lalu pilih yang paling masuk. Setelah itu baru kami sesuaikan dengan pesawat. Dengan cara ini, kami lebih bisa jaga budget dari awal, terutama untuk pengeluaran yang cukup besar seperti hotel.

3.1 Hotel Mekkah

Dalam memilih hotel ini cukup tricky, awalnya kami bingung antara jauh tapi murah, atau dekat tapi mahal.

Yang penting dan sering terlewat: informasi jarak di OTA (Online Travel Agent) itu menjebak. Jarak yang mereka cantumkan adalah straight line sesuai maps, bukan jalan sebenarnya. Jalanan di Mekkah maupun Madinah banyak yang naik turun dan tidak semua nyaman untuk pejalan kaki.

Contoh nyata: satu hotel tercantum 1.2 km dari pusat, tapi jarak sesungguhnya ke Gate 79 berjalan kaki adalah 1.9 kilometer dengan tanjakan, dan dengan mobil bisa 9 km karena harus memutar.

Keterangan di Trip.com
Padahal jarak sebenarnya dari hotel ke Gate 79, dengan berjalan kaki 1.9 kilometer
Sedangkan jika menggunakan transportasi Mobil, jarak bisa:

Untuk itu, kami benar-benar cari hotel yang affordable dari sisi harga, fasilitas, kenyamanan, serta jarak dari hotel ke Gate 79, ini merupakan gate terbaik untuk melaksanakan Umroh. Pilihan kami jatuh pada Al-Kiswah Hotel

Alasan kami memilih Al-Kiswah Hotel:

  • Jarak ke Gate 79 hanya 900 meter–1 kilometer
  • Pemesanan Careem, Uber, atau Taxi sangat mudah dari depan hotel
  • Al-Kiswah memiliki Shuttle Bus
  • Jarak jalan kaki dan naik mobil hampir sama — tidak rugi jalan kaki
  • Harga Taxi/Careem/Uber hanya 10-15 SAR jika terlalu lelah berjalan
  • Al-Kiswah terdaftar di Nusuk — memudahkan konfirmasi saat pengajuan visa

3.2 Hotel Madinah

Di Madinah, kami mencari hotel yang dekat dengan Gate 338. Mengapa gate 338?

Karena gate ini adalah satu-satunya gate di mana pintu masuk laki-laki dan perempuan bersebelahan. Di gate lain, pintu masuk antara perempuan dan laki-laki terpisah cukup jauh. Jadi kami menjadikan Gate 338 sebagai titik berkumpul.

Untuk pemilihan hotel di Madinah, kami tetap cek melalui Traveloka tapi verifikasi jarak sesungguhnya lewat Google Maps. Untuk jarak 1–5 kilometer, biaya Careem/Taxi/Uber umumnya berkisar 15-20 SAR

Di madinah, hotel yang digunakan Emaar Royal Hotel Medina dengan rate Rp1.578.000/malam ketika itu.

3.3 Pesawat: Jakarta–Jeddah & Pulang

Untuk pesawat, jujur kami tidak langsung cari yang paling murah. Karena dari awal kami sudah sadar, perjalanan ini bukan perjalanan singkat. Ini long haul, dan kalau salah pilih jadwal, efeknya bisa terasa sampai hari pertama di Mekkah.

Setelah kami pertimbangkan, kami memilih flight yang sesuai dengan jam tidur anak.

RuteMaskapaiJadwalCatatan
Jakarta → SingaporeSQ Airlines11.04 WIB → 14.00 SGTWaktu transit dipakai untuk makan & habiskan energi anak
Singapore → JeddahScoot Airlines16.30 SGT → 21.30 ASTAnak tertidur pukul 20.00, tidur 6–7 jam. Pas untuk imigrasi landing
Cara Kami Cari Tiket

Pakai Skyscanner untuk lihat opsi dan observasi beberapa hari. Pertimbangkan: direct flight, transit, beda maskapai, transit tidak ribet, total perjalanan masuk akal. Setelah itu baru booking lewat Traveloka karena lebih familiar.

3.4 Transportasi: Jeddah → Mekkah

Setelah landing di Jeddah, kami memilih menggunakan mobil yang dipesan melalui harmaintransport.com.

Cara pesan cukup mudah: daftar terlebih dahulu, lalu pilih mobil sesuai kebutuhan dan rute. Pembayaran hanya melalui cash, jadi siapkan uang tunai. H-3 keberangkatan, Anda akan di-WhatsApp admin dengan detail perjalanan, plat nomor, nama driver. Driver biasanya langsung menghubungi Anda untuk konfirmasi titik jemput.

Biaya: 300 SAR (≈ Rp1.379.000) untuk 1 mobil ukuran besar mungkin bisa berkapasitas 5-6 orang (Hyundai Staria).

Penting: Tafweej

Jika menggunakan opsi mobil, minta Tafweej kepada provider visa — yaitu surat izin menjemput/mengantarkan jamaah.

Untuk mengurus Tafweej, siapkan:

  • Nomor Identitas Driver
  • Kode Nusuk
  • Plat nomor mobil
  • Nomor Telepon Driver
Opsi Lebih Murah: NW Bus

Sekitar 44 SAR/orang, anak 0–12 tahun diskon 50%.

Bayar dengan kartu (Jenius/kartu kredit). Website: nwbus.sa/en. NW Bus hanya berhenti di Terminal Jarwal (Mekkah).

3.5 Transportasi: Mekkah → Madinah

Untuk perjalanan Mekkah ke Madinah, saya memilih bus Darb Al Watan dengan titik keberangkatan di Terminal Jarwal, Mekkah.

Biaya: 253 SAR (≈ Rp1.163.251) untuk 2 dewasa + 1 anak. Pesan di website, bayar dengan kartu.

TIPS PENTING:

Darb Al Watan adalah satu-satunya bus direct tanpa transit ke Madinah. NW Bus ada transit di Terminal 1 Jeddah. Dari sisi harga memang sedikit lebih mahal, tapi mengingat barang bawaan dan membawa anak, ini keputusan terbaik.

3.6 Transportasi: Madinah → Jeddah

Untuk rute Madinah–Jeddah, saya menggunakan NW Bus — satu-satunya bus dengan rute ke Terminal Jeddah.

Biaya: 262 SAR (≈ Rp1.204.632) untuk 2 dewasa + 1 anak.

TIPS PENTING

Usahakan ada jeda minimal 4 jam sebelum keberangkatan pesawat. Contoh: pesawat pukul 22.45, maka harus sudah di bandara pukul 18.30. Pilih bus yang sampai di Jeddah tepat waktu. Perjalanan Madinah–Jeddah memakan waktu sekitar 6 jam, tapi akan ada rest area untuk istirahat dan makan — jadi tidak perlu membawa bekal.

3.7 Budget Breakdown Lengkap

Biaya Umroh Mandiri — 2 Dewasa + 1 Anak (3 tahun) — Musim Dingin, 8–21 Januari 2026

ItemKeteranganTotal
Pesawat (SQ + Scoot)PP 3 pax, CGK–Jeddah–CGKRp32.844.378
Hotel Al-Kiswah Mekkah8–14 Jan (6 malam)Rp2.188.066
Hotel Madinah14–21 Jan (7 malam)Rp7.035.000
Transport Jeddah–MekkahHarmain Transport (mobil)Rp1.379.000
Transport Mekkah–MadinahDarb Al Watan BusRp1.163.251
Transport Madinah–JeddahNW BusRp1.204.632
Visa2 dewasa + 1 anakRp8.700.000
Admin Fee Agen1xRp500.000
Siskopatuh3 orangRp570.000
Vaksin Campak & Meningitis3 orangRp2.800.000
Careem/Uber/Taxi lokalMekkah & Madinah termasuk Jabal UhudRp8.000.000
Makan & Jajan3 orang, 14 hari (Rp1jt/hari)Rp14.000.000
Simcard lokal2 orang, 50 SAR/kartuRp459.783
Roaming XL2 orangRp700.000
Perlengkapan3 orangRp8.052.000
TOTALRp89.596.110
Per OrangRp29.532.037

Jika dibandingkan, budget Rp29 jutaan per orang lewat travel rata-rata hanya mendapat 9 hari perjalanan — yang berarti hanya sekitar 7 hari efektif di Mekkah dan Madinah. Dengan mandiri, kami dapat 13 hari penuh.

Bab 4
Dokumen & Administratif
Satu dokumen kurang, semua bisa gagal

4.1 Visa Umroh Mandiri

Untuk visa, kami apply di tanggal 16 Desember 2025 untuk keberangkatan 8 Januari 2026. Jadi kurang lebih sekitar tiga minggu sebelum berangkat. Dari pengalaman kami, prosesnya cukup cepat, sekitar 5 hari kerja sudah selesai.

Biayanya sekitar Rp2.900.000 per orang ditambah admin fee Rp500.000. Dokumen yang diminta juga tidak terlalu banyak, seperti paspor, tiket pesawat, booking hotel, dan data pribadi.

Satu hal yang memang kami pastikan dari awal, hotel sudah terdaftar di Nusuk sebelum apply visa. Untuk mencari hotel yang terdaftar pada nusuk, biasanya pada OTA pun sudah tertulis (Nusuk Registered atau Terdaftar di Nusuk), jadi memang kami memilih hotel yang sudah terdaftar di Nusuk.

Jadi saat pengajuan, semua sudah siap. Tidak ada proses bolak-balik atau revisi. Ini menurut kami penting, karena visa sangat bergantung pada data yang sudah masuk di sistem, termasuk hotel. Jadi pastikan semua sudah fix sebelum masuk ke tahap ini.

4.2 Siskopatuh

Selain visa, ada juga Siskopatuh yang wajib diurus. Ini sistem pendataan jemaah Umroh dari pemerintah Indonesia. Biayanya sekitar Rp190.000 per orang. Jika memang Anda memiliki provide yang tepat, pengurusan Visa bisa sekaligus mengurus Siskopatuh. Siskopatuh ini akan di cek di bagian Imigrasi Indonesia.

4.3 Nusuk — Daftar dan Fungsinya

Aplikasi Nusuk adalah platform digital resmi dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk memudahkan jamaah umrah dan haji dalam merencanakan perjalanan, memesan izin ibadah di tempat suci (khususnya Rawdah di Masjid Nabawi), serta mengurus akomodasi dan transportasi secara mandiri. Di Nusuk pun sudah dilengkapi dengan Al-quran Digital, Adzan, Doa-doa penting saat Haji & Umrah, Pemesanan Hotel dan berbagai fitur lainnya.

Berikut tata cara booking slot Rawdah melalui aplikasi Nusuk:

  • Buka aplikasi Nusuk
  • Daftar dan Masuk ke akun Nusuk
  • Masukkan nomor visa
  • pilih menu “Praying in Rawdah”
  • pilih tanggal yang tersedia
  • pilih jam (time slot)
  • konfirmasi booking
  • Setelah itu, nanti akan keluar QR code yang digunakan saat masuk.

4.4 Vaksin Wajib: Meningitis & Campak

Untuk vaksinasi, kami tidak terlalu ribet cari tempat. Kami booking langsung lewat Halodoc, pilih jadwal dan lokasi klinik yang tersedia, lalu tinggal datang sesuai jadwal ke klinik yang sudah ditentukan. Prosesnya cukup cepat dan tidak perlu antre lama, jadi lebih praktis dibanding harus cari sendiri dari awal.

Menurut kami, cara ini cukup membantu karena semuanya sudah terjadwal dan lokasinya jelas. Yang penting jangan terlalu mepet dengan tanggal keberangkatan, karena tetap ada jeda waktu setelah vaksin sebelum bisa berangkat.

Untuk anak, kami tetap mengikuti arahan dari dokter anak agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Total biaya yang kami keluarkan karena mengambil paket yaitu 2 dewasa dan 1 anak: Rp2.800.000

4.5 Timeline Ideal Pengurusan Dokumen

Untuk pengurusan visa, dari pengalaman kami, sebaiknya tidak dilakukan terlalu mepet. Idealnya di kisaran H-30 sampai paling lambat H-14 sebelum keberangkatan. Dengan range waktu ini, kita masih punya ruang kalau ada revisi atau hal yang perlu diperbaiki.

Di kasus kami, kami apply di 16 Desember 2025 untuk keberangkatan 8 Januari 2026, dan prosesnya cukup cepat, sekitar 5 hari kerja sudah selesai. Jadi sebenarnya proses visa Umroh itu tidak lama, selama semua dokumen sudah lengkap dan sesuai.

Yang biasanya membuat lama justru bukan di proses visanya, tapi di dokumennya. Kalau ada yang kurang atau tidak sesuai persyaratan, biasanya akan bolak-balik revisi, dan ini yang memakan waktu.

Karena itu, kami pastikan dari awal semua sudah siap, mulai dari paspor, tiket, hotel yang sudah terdaftar di Nusuk, sampai data lainnya. Jadi saat apply, prosesnya bisa langsung jalan tanpa hambatan.

Dari pengalaman ini, menurut saya bukan soal cepat atau lambatnya sistem visa, tapi lebih ke kesiapan kita sebelum apply. Kalau semua sudah rapi dari awal, prosesnya sebenarnya cukup cepat dan tidak perlu panik.

Bab 5
Persiapan Fisik, Mental & Perlengkapan
Yang dibawa seperlunya, yang disiapkan sungguh-sungguh

5.1 Persiapan Fisik

Sebelum berangkat, kami melakukan persiapan fisik yang fokus pada penguatan kaki. Karena di Mekkah dan Madinah aktivitasnya akan banyak jalan kaki. Dari pengalaman di sana, dalam sehari bisa mencapai kurang lebih 8–15 km, tergantung seberapa sering bolak-balik ke masjid.

Karena itu, kami mulai biasakan jalan kaki sebelum berangkat. Tidak yang berat, tapi cukup rutin. Misalnya jalan santai sekitar 20–30 menit, beberapa setiap hari, kadang kita berjalan di treadmill atau keliling komplek 2-3 kali putaran. Tujuannya bukan untuk latihan berat, tapi supaya badan tidak kaget saat di sana.

Saat sampai di Mekkah, tetap terasa capek di hari-hari awal. Tapi masih manageable. Badan butuh waktu adaptasi, apalagi dengan cuaca dan ritme yang berbeda. Setelah beberapa hari, baru mulai terasa lebih ringan.

Menurut saya, persiapan fisik itu penting, terutama jika kita tidak terbiasa berjalan lalu tiba-tiba di Mekkah dan Madinah nanti sebagian besar memang harus berjalan kaki.

5.2 Persiapan Mental

Kalau fisik itu penting, mental menurut saya sama pentingnya, bahkan lebih. Karena di sana, kondisi tidak selalu sesuai rencana. Sebelum berangkat, kami sudah sepakat satu hal: jangan terlalu banyak ekspektasi. Kami tidak memaksakan harus seperti apa, harus selama apa di masjid, atau harus melakukan ini itu setiap hari.

Apalagi kami bawa anak. Dari awal kami sudah siap dengan kemungkinan: anak capek, rewel, atau harus pulang lebih cepat. Dan ternyata itu membantu.

Karena saat ada kondisi seperti itu, kami tidak kaget. Tidak merasa “gagal”, tapi lebih ke menyesuaikan saja. Kami juga tidak memaksakan semuanya harus dilakukan bersama. Kami sepakat di antara saya dan suami, suami merupakan satu-satunya yang memungkinkan jika mau memaksimalkan ibadah di dalam masjid seperti tawaf sunnah, membaca alquran lebih lama, dan berbagai hal lainnya. Sehingga ketika di Indonesia pun kita berdua sepakat, ketika masuk masjid kita akan berpencar, dan suami saya larang untuk mengkhawatirkan saya dan anak, saya ingin dia fokus untuk ibadah, fokus untuk berdoa.

Alhamdulillahnya, karena kita sudah mempersiapkan sebegitunya, di sana terasa mudah dan nyaman, dan ternyata saya pun juga bisa melakukan berbagai ibadah lain, kecuali tawaf sunnah (bagi saya jika ingin melakukan tawaf sunnah di area mataf, harus didampingi suami, karena kondisi yang sangat ramai dan penuh. Nah, sedangkan jika tawaf sunnah di rooftop, jika naik tanpa suami sedikit sulit karena hanya ada eskalator, sedangkan saya membawa anak 3 tahun + stroller dan perintilannya, jadi salah satu ibadah yang saya relakan adalah tawaf sunnah).

Dari situ saya merasa, persiapan mental itu bukan soal jadi siap menghadapi semua hal, tapi lebih ke menerima bahwa tidak semuanya akan berjalan sesuai rencana. Ketika itu diterima dari awal, perjalanan terasa jauh lebih ringan.

5.3 Perlengkapan Ibadah

Untuk perlengkapan ibadah, kami fokuskan kepada pakaian yang dianjurkan untuk melakukan rangkaian ibadah umroh, sejauh yang kami ketahui, bagi laki-laki wajib membawa ihram dan bagi perempuan, baju yang sesederhana mungkin tidak mencolok, sehingga untuk baju bagi perempuan kami putuskan mencari abaya yang fokus utama adalah kenyamanan. Berikut list barang yang kami bawa untuk perlengkapan ibadah.

PERLENGKAPAN IBADAH

ItemJumlah
Abaya Perempuan Dewasa5
Jubah Laki-laki Dewasa5
Sandal (yang nyaman dan sesuai syarat ihram)1
Kaus kaki untuk laki-laki Dewasa3
Legging wudhu dewasa5
Topi atau penutup kepala2
Tas kecil (untuk membawa barang saat tawaf dan sa'i)2
Gamis untuk tawaf1
Kain Ihram (Bawa cadangan, berjaga-jaga jika hujan)2
Mukenah (hanya untuk sholat di bandara atau di hotel)1
Sajadah (hanya untuk sholat di bandara atau di hotel)1

PERLENGKAPAN MUSIM DINGIN (OPSIONAL)

ItemJumlah
Jaket musim dingin anak1
Jaket musim dingin laki-laki1
Jaket musim dingin perempuan1
Legging heattech anak2
Legging heattech perempuan2
Sarung tangan anak1
Sarung tangan perempuan1
Sarung tangan laki-laki1

PERLENGKAPAN ANAK

ItemJumlah
Baju abaya anak10
Baju tidur anak7
Pampers45 pcs
Baju santai5
Snack untuk cemilan saat di masjidSecukupnya
Makanan siap saji dari Indonesia: Promina, Abon, Nasi Fukumi, DllSecukupnya
Buku2
MainanSecukupnya

PERLENGKAPAN OBAT-OBATAN

ItemJumlah
Rhinos Junior (Atau disesuaikan obat flu anak biasanya)1
ChildLife Essentials Echinacea1
Puyer dari dokter anak untuk menjaga nafsu makanSecukupnya dan sesuai dosis
Probiotik anak14
Tempra Sirup1
Suplemen kesehatan anak Imunkid1
Imboost force dewasa28 tablet
Rhinos dewasa10 tablet
Vit c1 botol
Sumagesic5 bungkus
Obat batuk kering1
Obat batuk dahak1

PERLENGKAPAN PRIBADI & KEBERSIHAN

ItemJumlah
Skincare (yang penting sunscreen & moisturizer)Secukupnya
Perlengkapan mandi keluargaSecukupnya
Masker dan hand sanitizer (wajib kalau ke padang pasir)Secukupnya
Gunting kecil1
Tisu basah & tisu keringSecukupnya
Parfum tanpa alkohol1
Deodoran tanpa alkohol1

PERLENGKAPAN ELEKTRONIK

ItemJumlah
Colokan & Adaptor Universal1
Kipas angin portableDisesuaikan kebutuhannya
Powerbank2

PERLENGKAPAN TAMBAHAN

ItemJumlah
Uang tunai riyal (lebih baik sesuaikan dengan estimasi pengeluaran di sana)Secukupnya
Botol minum kecil (masing-masing orang bawa sendiri)3

PERLENGKAPAN DOKUMEN

ItemJumlah
Paspor (dengan visa umroh)Sesuai jumlah orang yang berangkat
Tiket pesawatSesuai jumlah orang yang berangkat
Kartu identitas (KTP/SIM)Sesuai jumlah orang yang berangkat
Buku vaksinasi meningitisSesuai jumlah orang yang berangkat
Siskopatuh PERLU DI PRINTSesuai jumlah orang yang berangkat
Salinan dokumen penting (paspor, visa, tiket, asuransi) VISA PERLU DI PRINTSesuai jumlah orang yang berangkat

5.4 Tips Packing

Untuk packing, dari pengalaman saya, tidak perlu terlalu banyak bawa baju. Saya sendiri hanya membawa sekitar 5 abaya, dan itu sudah cukup untuk 13 hari. Karena saat kami ke sana cuacanya cukup dingin dan tidak terlalu berkeringat. Memang terik, tapi tidak sampai membuat baju basah keringat, jadi beberapa abaya masih bisa dipakai kembali di hari berikutnya.

Untuk menghindari bawa terlalu banyak, saya memilih untuk laundry di Mekkah. Kami laundry semua baju kotor H-1 sebelum berangkat ke Madinah. Jadi saat sampai di Madinah, semua sudah bersih dan tinggal pakai. Ini cukup membantu karena tidak perlu bawa baju kotor ke kota berikutnya. Tapi memang perlu diperhatikan, harga laundry di sana cukup mahal. Waktu itu kami bayar sekitar 100 SAR atau kurang lebih 495 ribu untuk semua baju.

Untuk perlengkapan ibadah dan pakaian, menurut saya tidak harus membeli baru. Kalau sudah ada di rumah dan masih layak, lebih baik dipakai saja. Tidak terlalu berpengaruh ke ibadahnya, yang penting nyaman dipakai.

Untuk jaket juga tidak perlu yang terlalu tebal seperti jaket musim dingin. Cukup jaket hangat yang bisa menahan angin, terutama di Madinah yang terasa lebih dingin, apalagi saat subuh atau malam hari.

Kalau untuk makanan dan snack, kami bawa secukupnya saja. Tidak perlu terlalu banyak. Karena di dalam masjid sendiri cukup sering ada yang membagikan snack, terutama untuk anak-anak. Dari pengalaman saya, anak saya justru lebih suka snack yang diberikan orang di sana dibanding yang kami bawa sendiri.

Bab 6
Panduan Ibadah di Mekkah
Bukan buku fiqih — ini panduan dari pengalaman nyata kami selama umroh mandiri

6.1 Waktu Terbaik untuk Melaksanakan Umroh

Bagi kami, setelah tiba di Mekkah dan check-in hotel, kami tidak memutuskan untuk langsung mengambil niat ihram. Kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Daripada memaksakan keadaan lalu berujung tidak maksimal, kami memilih menunggu tubuh kembali bugar.

Kami datang ke Mekkah pada hari Kamis, 8 Januari 2026, dan baru mengambil niat ihram pada Minggu, 11 Januari 2026. Miqat diambil di Masjid Aisha (Masjid Tan'im), At Taniem, Makkah, Saudi Arabia.

JamKegiatanTransportasiHarga
04.00Bangun & persiapan
04.30–05.15Cari taxi & perjalanan ke Masjid AishaTaxi depan hotel50 SAR (PP, driver tunggu)
05.15Sholat Subuh di Masjid Aisha
05.15–06.30Sholat + ambil miqat
06.30–07.00Perjalanan ke Masjidil Haram, turun di underpass Gate 79
07.00–08.45Tawaf
08.30–08.40Sholat sunnah setelah Tawaf
08.40–11.10Sa'i
11.10–11.40Tahalul & Sholat Sunnah
11.40–12.40Sholat Dhuhur di area Sa'i atau Mataf
13.00–15.00Istirahat & makan
15.15–selesaiSholat Ashar & lanjut aktivitas

*Untuk makan anak, kami sudah menyiapkan bekal roti, susu UHT, dan kacang-kacangan sehingga pada prosesi umroh anak tetap terisi tenaga.

6.2 Panduan Umroh (Tawaf, Sa'i & Tahalul)

Untuk rangkaian Umroh seperti tawaf, sa’i, dan tahalul, kami tidak belajar dari kelas khusus. Kami cukup belajar dari Youtube dan beberapa pengalaman orang yang memang sudah pernah Umroh mandiri.

Dari situ kami pelajari alurnya, apa saja yang perlu dilakukan, dan bagaimana urutannya. Jadi saat sampai di Mekkah, kami tidak benar-benar “blank”. Salah satu hal yang cukup membantu, kami tidak langsung Umroh di hari pertama. Kami ambil waktu sekitar 2 hari untuk adaptasi dan belajar rute Masjidil Haram. Kami coba jalan ke mataf, lihat alurnya, dan membiasakan diri dengan kondisi di sana. Jadi saat hari Umroh, kami sudah lebih siap dan tidak bingung.

Untuk bacaan doa, awalnya kami tidak menghafal semuanya. Kami pilih cara yang menurut kami paling simple saat itu, yaitu membeli buku doa-doa kecil lalu dibawa saat ibadah. Jadi tinggal dibaca saja.

Tapi setelah dijalani, ternyata cara ini kurang fleksibel. Karena saat tawaf atau sa’i, kondisi cukup ramai dan kita harus terus berjalan. Kadang untuk mencari halaman doa tertentu jadi harus bolak-balik buka kertas, sementara ritme ibadah terus berjalan. Belum lagi waktu itu kertas doa kami sempat kena air zamzam dan jadi basah serta rusak, jadi cukup merepotkan.

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya akan jauh lebih mudah kalau doa-doa sudah disiapkan dalam versi digital di HP. Lebih praktis, lebih cepat dicari, dan tidak takut rusak atau hilang saat dibawa ibadah. Jadi kalau boleh saran, lebih baik doa-doanya sudah dipersiapkan di HP dari awal supaya lebih nyaman dipakai selama rangkaian Umroh.

Yang Penting Dipahami

Putaran dimulai dari posisi sejajar Hajar Aswad, arah berlawanan jarum jam, Ka'bah selalu di sisi kiri. Tujuh putaran penuh.

6.3 Daftar Doa & Bacaan Penting Selama Umroh

Doa & bacaan kami kelompokkan menjadi 6 bagian, dengan urutan kronologis perjalanan. Ini memudahkan jemaah karena bisa dibuka sesuai momen, jadi bukan sekadar kumpulan doa, tapi panduan doa yang kontekstual.

Sebelum Perjalanan

  • Niat Mandi Ihram
  • Doa Memakai Pakaian Ihram
  • Larangan Ihram

Miqat & Memasuki Mekkah

  • Sholat Sunnah Ihram
  • Niat Ihram Umroh
  • Talbiyah
  • Doa Memasuki Mekkah

Masjidil Haram

  • Doa Masuk Masjid
  • Doa Melihat Ka'bah
  • Doa I'tikaf
  • Doa Minum Air Zamzam

Tawaf (7 Putaran)

  • Istilam Hajar Aswad
  • Bacaan Tawaf Putaran 1–7
  • Doa di Rukun Yamani
  • Sholat Sunnah Setelah Tawaf

Sa'i (Shafa – Marwah)

  • Doa di Bukit Shafa
  • Bacaan Ketika Sa'i
  • Doa di Bukit Marwah
  • Doa Selesai Sa'i
  • Niat Tahalul

Tawaf Wada’

  • Doa Tawaf Wada'
  • Doa Keluar Masjidil Haram

Madinah Al Munawwarah

  • Doa Memasuki Madinah
  • Doa Masuk Masjid Nabawi
  • Bacaan di Dalam Raudhah
  • Salam di Makam Rasulullah
  • Doa Ziarah Baqi'
  • Doa Ziarah Jabal Uhud

Doa Umum Sepanjang Perjalanan

  • Doa Keluar Menuju Masjid
  • Doa Setelah Adzan
  • Doa Sepertiga Malam
  • Sholat Jenazah
  • Doa Safar Pulang

Penggalaman kami Tentang Buka Doa

Awalnya kami menggunakan buku kumpulan doa yang kami beli di ecommerce. Tapi setelah kami jalani waktu umroh, ternyata cukup ribet karena:

  • Doa dan bacaan yang terlalu banyak, dan banyak menurut kami tidak yang diperlukan.
  • Urutannya tidak selalu sesuai alur ibadah
  • Gampang rusak jika terkena air
  • Dan saat kondisi ramai, buka tutup halaman cukup memecah fokus.

Apalagi saat tawaf dan sa’i, kondisinya terus berjalan dan cukup padat.

Menurut kami, versi digital jauh lebih nyaman. Tinggal scroll sesuai urutan, lebih praktis, dan tidak perlu repot buka tutup kertas saat ibadah berlangsung.

Untuk memudahkan selama Umroh, kami juga sudah mengumpulkan seluruh doa-doa sesuai urutan ibadah dalam satu link, jadi lebih praktis dan tinggal scroll di hp saat dibutuhkan tanpa perlu buka tutup halaman lagi.

📖 Akses Kumpulan doa & bacaan Umroh

Kami sudah melengkapinya dengan bahasa arab, latin dan terjemahan. >>AKSES DISINI<<

6.4 Spot Taxi, Penitipan Barang & Rooftop

Selama di Mekkah, ada beberapa hal kecil yang sangat membantu tapi jarang dibahas secara detail, soal akses taxi dan penitipan barang.

Tempat Pesan Taxi (Paling Praktis)

Selama di Mekkah, spot yang paling sering kami gunakan untuk cari taxi ada di underpass Gate 79. Menurut kami ini salah satu titik paling praktis, karena di area ini banyak taxi yang menurunkan sekaligus menunggu penumpang.

Aksesnya cukup mudah. Masuk saja dari area Gate 79, lalu turun menggunakan eskalator menuju area bawah (underpass). Di sana biasanya langsung terlihat banyak taxi berjejer, jadi tidak perlu bingung cari kendaraan di pinggir jalan atas yang lebih ramai.

Dari pengalaman kami, hampir selalu langsung dapat taxi di area ini, dan jauh lebih praktis dibanding mencari di area luar atas Masjidil Haram.

Perbedaan Taxi di Mekkah & Madinah:

Setelah beberapa hari di sana, kami baru merasa ternyata sistem taxi di Mekkah dan Madinah cukup berbeda.

Taxi di Mekkah:
Di Mekkah, ada beberapa jenis taxi:

  • Taxi resmi → Tidak menggunakan argo, jadi harga nego langsung di tempat
  • Taxi lokal / tidak resmi → biasanya orang sekitar menawarkan jasa antar
  • Careem / Uber

Untuk taxi resmi dan lokal, semuanya nego. Untuk jarak dekat biasanya kami mulai menawar di kisaran 5–15 SAR, tinggal sesuaikan dengan jaraknya. Selama di Mekkah, kami justru lebih sering menggunakan taxi resmi atau taxi lokal dibanding Careem.

Taxi di Madinah:
Kalau di Madinah sedikit berbeda, agar lebih aman dan tidak tawar-menawar, kami lebih sering menggunakan Careem untuk transportasi, namun beberapa kali sempat memakai taxi lokal dan ada sedikit tawar-menawar harga. Berikut jenis taxi di Madinah:

  • Taxi resmi warna hijau/putih → Selalu menggunakan argo
  • Taxi lokal / tidak resmi → nego langsung
  • Careem / Uber

Spot Penitipan Barang

Kami paling sering pakai di WC 6, dekat Gate 79. Alasanya adalah aksesnya dekat ke mataf, tidak perlu jalan jauh, praktis kalau bawa anak. Ada juga penitipan di WC 3, tapi menurut kami itu cukup jauh kalau bolak-balik.

Cara penitipan: titip barang, sebutkan nomor passport atau nomor telepon, akan diberikan tag/nomor barang. Simpan baik-baik untuk pengambilan.

Tips Penitipan Barang

Ketika titip barang, sebutkan nomor passport atau nomor telepon, akan diberikan tag/nomor barang — simpan baik-baik untuk pengambilan.
Jangan menitipkan barang mepet waktu sholat karena tempat ini akan ditutup. Paling aman titipkan minimal 30 menit sebelum adzan.

Cara Naik ke Rooftop

Akses lewat Gate 91 atau Gate 84 (di seberang Zamzam Tower), ada eskalator langsung ke lantai 4/rooftop. Kondisi di rooftop: lebih sepi, tidak terlalu padat, lebih lega untuk sholat, dan bisa melihat Ka'bah dari atas. Datang sebelum Ashar untuk lebih leluasa.

6.5 Makanan di Sekitar Masjidil Haram

Setelah selesai ibadah dalam kondisi capek atau membawa anak, kami tidak ingin harus berjalan jauh hanya untuk mencari makan.

Rekomendasi utama: area P2 Clock Tower, ada foodcourt dengan berbagai pilihan: nasi biryani, mandhi, makanan cepat saji. Favorit kami adalah nasi biryani atau mandhi dengan ayam, sekitar 35 SAR per porsi, porsinya besar, bisa untuk 2–3 orang.

Chickmi jadi favorit kami — grilled chicken and rice 35 SAR, chicken broast 45 SAR (dapat kentang, 2 roti, 4 ayam).

Al Baik ada di area ini tapi antriannya panjang. Kami pesan lewat Hunger Station (semacam GoFood-nya Saudi) dan diantar ke hotel.

Lokasi lain: depan Gate 80, di samping Clock Tower — ramai tapi pelayanan cepat.

Selama di Mekkah, kami memang tidak banyak eksplor tempat makan jauh. Lebih memilih tempat yang dekat, cepat, dan mudah dijangkau agar energi tetap bisa difokuskan untuk ibadah.

6.6 Tips Harian di Mekkah

Selama di Mekkah, kami tidak membuat jadwal yang terlalu kaku. Kami lebih mengikuti ritme saja, tapi tetap punya pola supaya tidak terlalu capek. Biasanya kami bangun sebelum subuh, lalu langsung ke Masjidil Haram untuk sholat subuh di sana. Setelah itu, kami tidak selalu langsung pulang. Kadang kami duduk sebentar, kadang lanjut ibadah sebisanya, tergantung kondisi hari itu.

Selama di sana, kami lebih fokus jaga energi. Jalan secukupnya, istirahat cukup, dan tidak memaksakan diri. Berikut rundown kami selama di Mekkah.

Time Kegiatan
03.30 – 06.00 Tahajud, Free Session & Sholat Subuh
06.00 – 08.00 Syuruq & Dhuha
08.00 – 09.30 Sarapan & Free Session
09.30 – 09.45 Kembali ke hotel
11.00 – 11.15 Kembali Ke Masjid
11.45 – 13.30 Free Session di dalam Masjid & Sholat Duhur
13.30 – 14.30 Makan siang di P2 Clock Tower
15.15 – 16.30 Free Session di dalam Masjid & Sholat Ashar
16.30 – 17.30 Free Session
17.30 – 20.30 Free session di dalam Masjid & Sholat Magrib serta Isya
20.30 – 21.15 Suami Tawaf Sunnah
21.15 – 22.00 Makan malam (kalau belum capek, kita makan di P2 Clock Tower, kalau dirasa capek, biasanya kita beli makan saja lalu di makan di hotel)
Bab 7
Panduan di Madinah
Kota yang tenang, tapi penuh makna

7.1 Masjid Nabawi & Titik Kumpul

Selama di Madinah, menentukan titik kumpul menjadi hal yang sangat penting. Area Masjid Nabawi sangat luas — tanpa patokan yang jelas, cukup mudah untuk terpisah, terutama setelah sholat berjamaah saat arus jemaah keluar cukup padat.

Penggunaan nomor gate sebagai titik kumpul adalah cara paling praktis. Beberapa gate yang bisa jadi patokan:

  • Gate 338 — akses utama strategis, pintu masuk laki-laki dan perempuan bersebelahan
  • Gate 333 — dekat area hotel dan jalur pusat makanan
  • Gate 20–21 — sering digunakan jemaah perempuan karena dekat akses Raudhah

Kami selalu menggunakan Gate 338 sebagai titik kumpul karena ini satu-satunya gate di mana suami dan istri bisa bertemu langsung setelah sholat. Di gate lain, pintu masuk laki-laki dan perempuan terpisah cukup jauh.

Tips Koordinasi Pasangan

Selalu ingat nomor gate saat masuk. Sebisa mungkin keluar dari gate yang sama. Beri jeda 15–30 menit setelah sholat selesai untuk menghindari kepadatan arus keluar. Ambil foto area sekitar sebagai referensi.

7.2 Akses Masuk Raudhah

Masuk ke Raudhah bukan seperti masuk area masjid biasa. Ada alur, ada jadwal, dan semuanya cukup teratur.

Untuk Jemaah Laki-Laki

  • Titik kumpul di area pelataran sekitar Pintu 37 (sisi selatan masjid)
  • Antre sesuai jadwal di aplikasi Nusuk, petugas cek barcode
  • Diarahkan masuk melalui Bab Al-Salam (Pintu 1)

Untuk Jemaah Perempuan

  • Biasanya tersedia setelah Subuh atau setelah Isya
  • Akses masuk melalui Gate 25 atau Gate 37
  • Jemaah dikumpulkan dan dikelompokkan oleh Askar, lalu masuk bertahap

Cara menemukan lokasinya: cari papan bertuliskan "Praying in the Noble Rawdah" atau langsung tanya petugas (askar): "Raudhah?" — mereka langsung arahkan.

Tips Raudhah

Usahakan sudah di titik kumpul ±30 menit sebelum jadwal. Jangan datang mepet, antriannya bisa cukup ramai. Ikuti arahan petugas karena alurnya sudah diatur.

7.3 Tempat Belanja di Madinah

Untuk belanja di Madinah, kami cukup sering ke At Taiba Shopping Center. Aksesnya dekat dari Masjid Nabawi — lewat Gate 331, jalan sedikit sudah sampai.

Pilihannya cukup banyak: gamis, baju anak, hijab, oleh-oleh. Pembelian gamis biasanya sudah include hijab.

Panduan Harga:

  • Promo 100 SAR dapat 10 pcs baju — ukuran cenderung kecil, bahan biasa. Tidak kami rekomendasikan.
  • Baju yang nyaman: sekitar 45–50 SAR per baju
  • Gamis kualitas bagus: 80–100 SAR per pcs
Catatan Penting

di Mekkah maupun Madinah, begitu adzan berkumandang, seluruh toko langsung tutup tanpa mempertimbangkan apakah masih ada pelanggan. Jadi rencanakan waktu belanja sesuai jadwal sholat.

7.4 Tempat Makan di Madinah

Pilihan makanan di Madinah tidak sebanyak di Mekkah. Tapi ada beberapa tempat yang cukup membantu, terutama kalau sudah mulai kangen makanan Indonesia.

Restoran Indonesia di Madinah

  • Sunda Med — lebih mudah dijangkau, cukup ramai. Harga sekitar 35–50 SAR. Dari sisi harga, makanan khas Saudi lebih murah — 35 SAR bisa untuk 2–3 orang.
  • Jambi Restaurant — posisinya di belakang Al Ritz Al Madinah Hotel, tidak langsung kelihatan dari jalan utama. Bisa ditemukan lewat maps.

Restoran Lokal & Khas Timur Tengah

Untuk akses ke restoran lokal ini bisa melalui pintu 338 lalu jalan lurus dan belok kiri (belokan kedua), di sana terdapat makanan fast food seperti McD, dan beberapa makanan lokal lainnya. Berikut rekomendasi dari kami:

  • Karak Express: Mirip dengan Al-Baik namun saya pribadi lebih menyukai Al-Baik, Karak Express ada nasinya, namun nasinya ada hint lada, sehingga tidak cocok untuk anak saya, tetapi jika anak kamu tipe yang bisa menerima lada, ini mungkin masih cocok. Harga beragam, namun untuk makan utama sekitar 25 - 35 SAR.

  • Jakarta Restaurant: Makanan Indonesia, tapi kita tidak mencoba.

  • Restoran Lokal: Ini tidak ada namanya, tapi kami 2-3x makan di restoran lokal yang ada di dalam ruko area ini. Harganya pun cukup murah, satu porsi Chicken Broast (4pcs ayam + Kentang) hanya 20SAR dan kita biasanya menambah nasi sekitar 3 SAR - 5 SAR, air mineral 1 SAR.

  • Rose Ice Cream Madinah: Letaknya di Foodstall depan pintu 338. Nah tips untuk datang ke sini tanpa antri yaitu: datang sekitar pukul 7.00 - 7.30, dijamin masih sepi, karena sedikit siang saja antrinya mengular. Untuk harga kisaran 15 SAR - 25 SAR, tergantung tipe ice cream yang dipilih (Cone atau Tempat).
    *Per Ebook ini kami buat, saya melihat di social media area ini sudah dipindahkan

  • Medina Kabsah: Kami sempat mencoba ini untuk sarapan, dan turns out makanannya sangat porsi besar, untuk menu ayam sekitar 35 SAR dan waktu itu kita menambah lamb sekitar 80 SAR (hanya lamb tanpa nasi). Untuk rasa enak, tapi dari kami lebih menyukai menu ayamnya karena lebih gurih dan enak.
    *Per Ebook ini kami buat, saya melihat di social media area ini sudah dipindahkan

Untuk lokasi paling akurat, langsung cek Google Maps.

7.5 Ziarah: Jabal Uhud & Tempat Bersejarah

Selama di Madinah, kami tetap menyempatkan waktu untuk ziarah, tapi tidak dibuat padat. Kami pilih beberapa tempat saja dan atur waktunya supaya tetap nyaman dijalani.

Untuk Jabal Uhud, kami datang di sore hari setelah Ashar. Kami berangkat dari hotel menggunakan mobil (Careem/Uber), dengan biaya sekitar 20 SAR sekali jalan atau kurang lebih Rp99.000, jadi untuk pulang-pergi sekitar 40 SAR (± Rp198.000). Untuk harga bisa berbeda-beda, per ebook ini dibuat (May 2026) harga sudah naik menjadi 50 SAR/orang, selengkapnya bisa cek di https://visitmadinahsa.com/sa-en/experiences/almadinah-almunawarah/tours/jabal-uhud-experience-1

Di sekitar Jabal Uhud terdapat banyak cafe-cafe lucu dan estetik serta ada wahana naik Unta dengan harga 10 SAR (Rp45.590) Menurut kami, suasananya cukup tenang, apalagi menjelang sore. Kami juga sempat naik ke area Jabal Uhud, berikut rincian biayanya:

Untuk Masjid Quba, kami datang di hari yang berbeda, dan kami pilih pagi hari. Karena dari awal memang kami ingin mengejar keutamaan sholat di sana. Jadi kami sudah dalam kondisi berwudhu dari hotel, lalu langsung ke Masjid Quba dan sholat 2 rakaat. Karena dari yang kami pelajari, sholat di Masjid Quba dalam kondisi berwudhu dari tempat asal memiliki pahala setara Umroh.

Akses ke Masjid Quba juga cukup mudah, tinggal order mobil dan langsung sampai.

Dari pengalaman kami, ziarah ini tidak perlu banyak-banyak. Cukup pilih beberapa tempat yang memang ingin didatangi, lalu jalani dengan santai. Karena yang lebih terasa bukan seberapa banyak tempat yang dikunjungi, tapi bagaimana kita menjalani waktunya.

Bab 8
Kisah Perjalanan Hari per Hari
Bukan jadwal — ini cerita kami selama 13 hari umroh.

Hari 1 — Landing di Jeddah

8 Januari 2026:

Kami landing di Jeddah malam hari. Suasana bandara cukup ramai, tapi proses imigrasi masih cukup manageable. Tidak cepat, tapi juga tidak sampai membuat panik. Kami sudah siapkan semua dokumen dari awal, termasuk memperhatikan mana dokumen yang perlu diprint atau tidak (bisa lihat kembali di Bab 4). Jadi saat sampai, kami tinggal mengikuti alur saja.

Setelah turun dari pesawat, kami mengikuti petunjuk arah di bandara dan sempat berpindah terminal menggunakan kereta bandara. Setelah itu kami berjalan menuju area imigrasi, lalu lanjut ke pengambilan bagasi. Sampai titik ini sebenarnya cukup ikuti signage yang ada di bandara karena cukup jelas.

Yang sempat membuat kami bingung justru setelah keluar dari area bagasi, saat mencari titik parkir driver. Dari pengalaman kami, setelah keluar bandara terus berjalan sampai menemukan aquarium besar di area utama bandara. Nah dari area aquarium itu, kami turun 1 lantai menggunakan lift, lalu berjalan mengikuti arah menuju Bus Parking. Di area itulah kami akhirnya bertemu dengan driver.

Nah, di titik ini menurut kami penting untuk tetap terlihat tenang dan tidak terlalu bingung. Karena dari beberapa pengalaman teman dan video Youtube yang kami pelajari sebelumnya, jamaah yang terlihat kebingungan biasanya akan langsung dihampiri petugas transportasi. Sebenarnya mereka membantu dan tidak ingin jamaah terlantar, tapi sayangnya harga yang ditawarkan cukup tinggi.

Dari informasi yang kami dapatkan, untuk 2 orang saja biaya transport bisa sampai sekitar 646 SAR (± Rp3.000.000) menggunakan bus atau transport tertentu. Dibandingkan biaya yang kami keluarkan sendiri, menurut kami ini cukup mahal.

Setelah akhirnya bertemu driver yang sudah kami koordinasikan sebelumnya, di situ rasanya mulai berbeda. Semua yang sebelumnya hanya direncanakan perlahan mulai terasa nyata. Dari bandara, kami langsung menuju Mekkah. Perjalanan malam hari cukup tenang dan jalanan tidak terlalu padat.

Di sepanjang perjalanan, mulai terlihat tanda-tanda bahwa kami sudah masuk ke area kota suci. Lampu-lampu jalan, suasana sekitar, dan arah menuju Mekkah terasa berbeda. Di momen itu saya sempat merasa haru, karena tidak pernah menyangka saya, suami, dan anak bisa sampai ke tempat ini bersama, dengan selamat dan dimudahkan sampai sejauh ini.

Tidak ada momen besar yang dramatis selama perjalanan itu. Tapi perlahan terasa bahwa kami benar-benar sudah berada di fase yang selama ini hanya menjadi rencana dan doa.

Hari 2–3 — Istirahat & Orientasi

9-10 Januari 2026:

Kami memang tidak langsung Umroh di hari pertama. Kami pilih untuk istirahat dan adaptasi dulu selama 2 hari. Di hari-hari ini, kami lebih banyak mencoba memahami ritme di sana. Kami mulai jalan ke Masjidil Haram, lihat akses masuk, coba cari rute yang paling nyaman, dan membiasakan diri dengan kondisi sekitar.

Kami juga mencoba area sekitar hotel, termasuk tempat makan dan akses transport.

Untuk anak, di hari-hari awal ini masih cukup baik. Tidak terlalu rewel, mungkin karena juga masih adaptasi dengan suasana baru. Kami tidak memaksakan aktivitas, jadi semuanya berjalan cukup santai.

Namun ada momen yang cukup bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita selama di Mekkah selalu membawa stroller, dan di hari pertama kita mencoba taruh stroller di sisi samping pintu masjid (gate 79) lalu kita masuk ke dalam masjid dan sholat, dan setelah sholat, stroller masih aman. Kemudian, di hari kedua kita mencoba hal yang sama tetapi posisi stroller ada di depan samping pas masjid karena di tempat yang kemarin itu ada barikade, setelah menaruh stroller, kami masuk ke dalam masjid dan cukup lama mulai dari sholat duhur hingga selesai sholat ashar. Ternyata, setelah sholat ashar, stroller kami tidak ada.

Setelah kami cari tahu, ternyata stroller kami dibereskan oleh petugas kebersihan, namun untuk sampai ke tempat lost and found membutuhkan waktu yang cukup lama kurang lebih 3 - 7 hari, di mana setelah hari ketiga kami coba cek ke lost and found, stroller tersebut belum ada. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli stroller baru, Alhamdulillahnya di area sekitaran Abraj Al-Bait masih ada Baby Shop. Posisi Baby Shop ada di lantai 2 persis dengan BREW92.

Berdasarkan kejadian tersebut, kami mencoba mencari tahu tempat penitipan terbaik selain di WC 3, dan setelah kita cari tahu, ternyata di depan Gate 79 ada penitipan barang yang letaknya di WC 6 (WC 6 persis di depan area gate 79). Akhirnya kami setiap hari ketika akan berencana masuk ke dalam masjid lebih lama, kami selalu menitipkan barang dan stroller di penitipan WC 6.

Hari 4 — Hari Umroh

Di hari ini, kami bangun lebih pagi dari biasanya. Kami bersiap untuk mengambil miqat di Masjid Aisyah. Perjalanan ke sana cukup singkat, dan suasananya masih cukup tenang karena pagi hari. Setelah itu kami kembali ke Masjidil Haram untuk memulai rangkaian Umroh.

Saat pertama kali masuk ke area mataf dan melihat Ka’bah, rasanya lebih ke diam. Tidak langsung bereaksi berlebihan, tapi ada momen berhenti sejenak, melihat, dan mencoba menyadari bahwa ini benar-benar sudah di depan mata.

Kami menjalani tawaf dengan ritme yang pelan, tidak terburu-buru. Anak dalam kondisi tidur, jadi cukup membantu selama proses berlangsung. Setelah tawaf, kami melanjutkan sa’i, dan ternyata meski masih di area masjid, perjalanan menuju tempat sa’i cukup jauh dan memakan waktu yang lama. Ketika umroh, kami memutuskan tidak membawa stroller dikarenakan kami mengira tidak diperbolehkan membawa stroller, tapi ternyata di tempat sa’i masih banyak yang membawa stroller maupun kursi roda. Namun ada yang perlu diingat, jika kamu memutuskan untuk membawa stroller, sebaiknya dititipkan terlebih dahulu sebelum menjalani tawaf, dan setelah tawaf harus keluar masjid untuk mengambil stroller dan menuju arah sa’i (bukit marwah dan safa) melalui area luar masjid yang mana ini cukup jauh dibandingkan jika melalui dalam masjid.

Hal penting lainnya di ketika menjalani sa’i adalah kita tidak perlu bingung ketika saat sa’i terbentur dengan jam sholat, karena kita bisa sholat dimanapun kita berada (tidak perlu keluar area sa’i) dan setelah selesai sholat kita bisa melanjutkan sa’i dengan catatan kita mengingat sudah berapa kali putaran. Dan saat sa’i pun kita juga diperbolehkan memakai sandal.

Lalu, ada baiknya ketika berada di bukit marwah maupun safa, kita dianjurkan berdoa dan membaca tasbih. Setelah rangkaian sa’i selesai dilakukan, inilah saat yang paling melegakan, karena kita langsung melaksanakan tahallul.

Hari 5–6 — Keseharian di Mekkah

Hari-hari berikutnya kami jalani dengan ritme yang cukup santai. Tidak setiap waktu ke masjid, tapi tetap konsisten. Ada momen capek, terutama kalau terlalu banyak jalan di hari sebelumnya. Ada juga momen anak mulai rewel, tapi masih bisa di-handle karena kami tidak memaksakan harus selalu di luar. Kadang ada momen sederhana, seperti duduk di masjid lebih lama dari biasanya, atau sholat tanpa terburu-buru, yang justru terasa lebih tenang.

Tepat di tanggal 13 Januari 2026, suami sempat memutuskan datang ke area lost and found untuk mengecek apakah stroller kami yang sebelumnya dibereskan petugas sudah ditemukan atau belum. Untuk lokasi lost and found sendiri berada di area belakang Masjidil Haram dan posisinya di luar area masjid. Dari area WC 3, naik ke arah Shafa lalu belok kanan, nanti area lost and found ada di bagian belakang.

Saat itu suami mencoba mengecek apakah stroller kami masih ada, karena sebelumnya stroller memang sempat dibereskan petugas saat area mulai terlalu penuh. Tapi ternyata setelah dicek, stroller kami belum ditemukan juga. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikhlaskan stroller tersebut beserta beberapa barang yang ada di dalamnya.

Di hari itu juga kami memutuskan pulang ke hotel setelah Isya dengan berjalan kaki. Suasana malam di sekitar hotel cukup ramai karena banyak warga lokal yang berjualan makanan dan buah-buahan. Saat berjalan pulang, kami menemukan penjual strawberry dengan harga yang menurut kami murah sekali. Saya membeli satu kotak strawberry seharga 5 SAR (± Rp23.203). Buahnya besar-besar, segar, dan manis sekali. Kalau dibandingkan di Indonesia, kualitas seperti itu mungkin bisa dijual di atas Rp200 ribuan.

Tapi di perjalanan pulang setelah membeli strawberry itu, kami sempat mengalami hal yang cukup membuat kami waspada. Kami didatangi beberapa orang yang kalau dilihat dari logat dan penampilannya kemungkinan berasal dari Pakistan, India, atau Bangladesh. Awalnya saya kira hanya ingin bertanya biasa, tapi ternyata arahnya meminta uang. Biasanya mereka akan mulai dengan bahasa Inggris lalu bertanya, “Indonesia? Indonesia?” Setelah beberapa hari di sana, kami baru sadar kalau modus seperti ini memang cukup sering menyasar orang Indonesia, karena dianggap lebih tidak enakan dan lebih mudah memberi.

Kalau memang ingin sedekah, menurut kami lebih baik melalui jalur yang lebih jelas. Waktu itu di area bawah Clock Tower ada beberapa pegawai restoran yang menawarkan semacam paket makan untuk dibagikan ke orang-orang sekitar, mirip konsep Jumat berkah. Harganya sekitar 10–15 SAR per porsi, dan menurut kami itu jauh lebih nyaman dan jelas kalau memang ingin berbagi makanan.

Hari 7 — Perjalanan ke Madinah

14 Januari 2026: Tawaf Wada, Checkout Hotel di Makkah & Perjalanan ke Madinah

Di hari terakhir kami di Mekkah, kami memutuskan untuk menjalankan tawaf wada setelah sholat subuh. Namun, tawaf wada ini kami lakukan di rooftop mengingat anak kami cukup lelah karena bangun terlalu pagi dan setelah ini kami akan melakukan perjalanan cukup panjang ke Madinah.

Setelah checkout hotel, kami mencari taxi ke terminal jarwal dengan biaya 15 SAR (Rp69.610). Sesampainya di terminal jarwal kami langsung menuju counter checkin bus Darb Alwatan, busnya cukup on-time. Perjalanan cukup panjang, tapi nyaman. Tidak terlalu melelahkan karena kami juga bisa istirahat di perjalanan.

Ditengah-tengah perjalanan, bus berhenti di rest area, sehingga kami bisa istirahat sejenak dan membeli beberapa cemilan. Saat sampai di Madinah, suasananya langsung terasa berbeda. Lebih tenang, tidak sepadat Mekkah. Ritmenya juga terasa lebih pelan.

14 Januari 2026: Hari Pertama di Madinah

Di hari pertama ini, karena kami datang pukul 15.30 waktu KSA, kami langsung bersih-bersih dan istirahat sejenak setelah 6 jam perjalanan. Kita tidak memutuskan untuk ke Masjid Nabawi, karena kita ingin beristirahat dan suami sholat di masjid sekitaran hotel. Hotel kami berjarak 4-5 kilometer dari Madinah.

Hari 8–13 — Keseharian di Madinah

15 Januari 2026: Explore Masjid Nabawi

Kami bangun sekitar pukul 02.00 waktu KSA untuk bersiap ke Masjid Nabawi. Sekitar pukul 03.30 kami berangkat menggunakan Careem dengan biaya sekitar 17 SAR (± Rp78.892). Saat sampai di Masjid Nabawi, udara terasa sangat dingin ditambah angin yang cukup kencang. Kami sebenarnya ingin sholat di dalam masjid, tapi saat itu area perempuan sudah penuh, jadi hanya suami yang bisa masuk dan sholat di dalam masjid.

Setelah sholat Subuh, dzikir, dan duduk sebentar di area masjid, sekitar pukul 06.30 kami mulai jalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi untuk melihat area sekitarnya. Di hari kedua ini kami memutuskan sarapan di Sunda Med. Menu yang kami pesan waktu itu nasi campur rendang, tambahan nasi, mie ayam, dan gorengan. Kami lupa harga per menu, tapi totalnya sekitar 97 SAR (± Rp450.149).

Menurut kami cukup mahal, apalagi porsinya standar. Kalau dibandingkan makanan khas Timur Tengah di sana yang rata-rata 35–45 SAR (± Rp162.425 – Rp208.832), porsinya justru bisa dimakan 2–3 orang.

Setelah sarapan kami kembali keliling area Masjid Nabawi sambil menunggu waktu dhuha. Hari itu kami memang lebih banyak menghabiskan waktu di masjid sampai Ashar, lalu setelah Ashar kami memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat.

Di Madinah juga kami baru sadar satu hal. Setelah menggunakan SIM card lokal Saudi, ternyata WhatsApp tidak bisa digunakan untuk video call atau panggilan suara. Jadi selama di Madinah kami sudah tidak bisa video call keluarga di Indonesia. Berbeda saat di Mekkah, karena waktu itu kami masih menggunakan roaming XL sehingga masih bisa video call nenek dan keluarga di rumah.

Sesampainya di hotel, karena penasaran dengan Al-Baik, kami akhirnya pesan lewat Hunger Station. Menurut kami ini jauh lebih praktis dibanding beli langsung. Selain sering ada promo, kami juga tidak perlu antre. Karena jujur saja, antrean Al-Baik offline bisa sangat panjang, bahkan bisa sampai sekitar satu jam. Jadi kalau memang tersedia di aplikasi, kami lebih menyarankan order online saja.

Untuk sholat Maghrib dan Isya malam itu, saya dan anak memilih di hotel, sementara suami sholat di masjid sekitar hotel.

16 Januari 2026: Rawdah

Kami sengaja mengambil slot Raudhah di hari Jumat, 16 Januari 2026. Tidak ada alasan yang terlalu spesifik, tapi kami merasa hari Jumat adalah salah satu waktu yang mustajab, jadi kami ingin berdoa di tempat yang mustajab juga di hari yang sama.

Untuk saya, jadwalnya 06.40 setelah Subuh. Saat itu kondisi masih gelap, baru mulai terang sekitar pukul 07.15. Supaya tidak terburu-buru, saya sholat Subuh di area dekat Raudhah, sementara anak saya dititipkan ke suami di area pria. Setelah selesai sholat, saya langsung menuju antrian di Gate 25. Kalau bingung, cukup tanya ke petugas dengan bilang “Rawdah?”, nanti akan langsung diarahkan.

Saat itu antrian cukup banyak dan sebagian besar rombongan. Karena saya sendiri, askar cukup membantu mengarahkan. Setelah scan barcode, kami diminta berbaris. Yang saya rasakan, kalau datang sendiri memang lebih fleksibel, bahkan beberapa kali askar membantu menempatkan saya di barisan depan. Tidak menunggu lama, sekitar 10 menit, barisan mulai berjalan pelan menuju Raudhah.

Di momen itu, saat orang-orang masih bergerombol, saya sempat dipanggil askar, “Sista, here”, lalu diarahkan ke bagian depan. Alhamdulillah, saya bisa berada di shaf pertama. Di situ saya langsung sholat, dan benar-benar tidak banyak yang bisa diucapkan selain doa dan memohon ampun. Saya fokus ke sholat taubat dan sholat hajat. Waktu terasa cepat, mungkin sekitar 30 menit, lalu area mulai dikosongkan untuk jemaah berikutnya.

Saat keluar, askar membagikan snack seperti manisan kurma dan kacang. Sederhana, tapi saat itu terasa sangat berarti.

Untuk suami, jadwalnya 13.40, yang cukup menantang karena berdekatan dengan waktu selesai sholat Jumat sekitar 13.30. Saat itu suami sempat panik dan akhirnya berlari cukup jauh mengelilingi masjid, padahal sebenarnya bisa lewat dalam masjid dan lebih dekat. Tapi Alhamdulillah masih kebagian, karena antrian masih dibuka.

Untuk laki-laki, titik antrian ada di Gate 37. Setelah itu diarahkan masuk ke dalam masjid dan membentuk barisan. Dari cerita suami, waktu tunggunya agak lebih lama dibanding saya. Tapi setelah sekitar 30 menit, akhirnya masuk ke area Raudhah.

Dan di sini yang kami rasakan benar-benar berbeda. Suami mendapat kesempatan berada di Raudhah cukup lama, bahkan sampai sholat Ashar di dalam Raudhah. Ini benar-benar di luar ekspektasi kami. Rasanya seperti benar-benar diberikan waktu lebih di tempat yang sangat istimewa.

Setelah selesai, suami juga mendapatkan snack dan sebotol air zamzam dari Masjid Nabawi.

Setelah itu kami bertemu kembali, karena belum sempat makan siang, kami cari makan di sekitar Masjid Nabawi. Lalu kami memutuskan kembali ke hotel untuk istirahat. Malamnya saya sholat Maghrib dan Isya di hotel, sementara suami sholat di masjid dekat hotel.

Dari pengalaman ini, kami merasa setiap orang punya ceritanya masing-masing di Raudhah. Tidak bisa disamakan, tapi semuanya terasa cukup dan penuh dengan cara yang berbeda.

17 Januari 2026: Explore Masjid Quba

Di hari ini, kami memang sengaja mengawali pagi dengan ke Masjid Quba. Kami berangkat sekitar pukul 07.00 pagi dari hotel menggunakan Careem, dengan biaya sekitar 23 SAR (± Rp106.190). Perjalanannya tidak terlalu jauh dan cukup nyaman untuk pagi hari.

Dari hotel, kami sudah dalam kondisi berwudhu. Jadi setibanya di Masjid Quba, kami langsung melaksanakan sholat. Kami niatkan beberapa sholat sunnah sekaligus, seperti tahiyatul masjid, dhuha, taubat, dan hajat. Karena dari yang kami pelajari, siapa yang berwudhu dari rumah lalu datang ke Masjid Quba dan sholat 2 rakaat, maka pahalanya setara dengan umroh.

Masjid Quba sendiri merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ saat hijrah ke Madinah, jadi memang punya nilai sejarah yang sangat kuat. Suasananya juga terasa berbeda, lebih tenang dan tidak sepadat Masjid Nabawi.

Setelah selesai sholat, kami sempat jalan-jalan di sekitar area Masjid Quba. Paginya cukup sejuk & dingin meski sinar matahari cukup terang. Di sekitar situ ada beberapa penjual, dan saya sempat beli strawberry seharga 5 SAR. Ukurannya besar dan rasanya manis, bahkan anak saya juga suka.

Setelah itu kami sempat foto-foto di sekitar masjid dan mampir ke toko souvenir yang ada di area sana. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk menikmati suasananya. Untuk kembali ke Masjid Nabawi, kami coba naik buggy car. Harganya sekitar 10 SAR per orang, jadi total kami bayar 20 SAR karena anak masih dipangku. Perjalanan dengan buggy ini cukup seru, karena rasanya seperti city tour kecil di sekitar area Masjid Quba sampai Masjid Nabawi.

Hari ini tidak banyak yang kami lakukan, kami berfoto-foto di area Masjid Nabawi, Ibadah dan kami membeli Rose Ice Cream Madinah yang ada di foodstand area pintu 338. Untuk Rose Ice Cream, kami datang sekitar pukul 07.30 untuk membeli Rose Ice Cream Madinah, ketika datang kami sedikit kaget karena ternyata sepi tidak ada antrian sama sekali, harganya cukup bervariasi mulai dari 15 SAR - 25 SAR tergantung tipe ice cream yang dibeli.

Setelah membeli Rose Ice Cream Madinah, kami mencari sarapan dan memutuskan untuk makan di Medina Kabsah, waktu itu masih sangat pagi sehingga tidak banyak menu yang tersedia. Kami memesan Ayam dan Nasi Mandhi harganya 35 SAR dan karena waktu itu kami “lapar mata” akhirnya tergoda juga memesan Lamb Only seharga 80 SAR. Menurut kami, dibandingkan lamb, kami lebih menyukai ayamnya karena lebih gurih dan enak.

Setelah makan kami memutuskan untuk kembali Masjid Nabawi, dan ternyata antrian Rose Ice Cream sangat panjang sekali, seketika itu kami bersyukur membeli Rose Ice Cream Madinah di pagi hari ketika masih sepi.

18 Januari 2026: Masjid Nabawi

Di hari ini, kami tidak membuat agenda khusus. Sebagian besar waktu kami habiskan di Masjid Nabawi, lebih banyak duduk, sholat, dan menikmati suasana tanpa terburu-buru.

Kami juga mulai membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Kami belanja di At Taiba Shopping Center, yang cukup dekat dari Masjid Nabawi. Waktu itu kami dapat baju dewasa ukuran sedang di kisaran 45 SAR, dan untuk jubah laki-laki sekitar 100 SAR sudah dapat 5 pcs. Pilihannya cukup banyak, jadi tinggal pilih yang paling cocok.

Untuk parfum, kami sempat beli parfum lokal (tanpa merek) dengan harga sekitar 100 SAR untuk 4 pcs. Selain itu, ada juga parfum lokal lain dengan harga yang bervariasi tergantung kualitas dan jenisnya. Tapi dari pengalaman kami, untuk parfum seperti Ahmed Al Maghribi, Osman, dan sejenisnya, harganya cenderung lebih murah dibeli di Mekkah dibandingkan di Madinah.

Suami saya juga menyempatkan membeli sajadah khas Arab Saudi, termasuk sajadah Mada yang cukup terkenal.

Selain berbelanja kami juga sempat mencoba bermain Careem Scooter, unlock dan pembayarannya melalui aplikasi (download aplikasi lalu hubungkan kartu, waktu itu kami memaki Jenius). Untuk ratenya sendiri bisa dicek langsung di aplikasi, cukup murah dan kami mendapat pengalaman yang seru.

Hari ini lebih terasa santai, tidak banyak aktivitas, tapi justru itu yang membuat kami bisa menikmati waktu di Madinah dengan lebih tenang.

19 Januari 2026: Explore Jabal Uhud

Di hari ini, kami memang sudah berencana ke Jabal Uhud. Pagi hingga setelah Ashar, kami tetap menghabiskan waktu di Masjid Nabawi. Setelah sholat Ashar, kami kembali ke hotel untuk bersiap. Kami sudah reservasi ke Jabal Uhud Experience pukul 17.00, dan saat itu kami berangkat cukup mepet sekitar 16.20, tapi alhamdulillah masih sempat.

Di area Jabal Uhud sendiri ada beberapa titik yang bisa dikunjungi. Ada Masjid Sayyid Al-Syuhada, yang dibangun sebagai penghormatan untuk para sahabat Nabi SAW, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur di Perang Uhud. Lalu ada juga pengalaman naik unta dengan harga sekitar 10 SAR, dan beberapa cafe estetik di sekitar area tersebut. Kalau ikut travel biasanya hanya sampai di Masjid Sayyid Al-Syuhada, tapi karena kami datang sendiri, kami bisa eksplor lebih jauh.

Kami lanjut ke Jabal Uhud Experience, di mana kita bisa naik ke puncak menggunakan mobil GMC yang sudah disediakan. Untuk pembelian tiket dan detail lainnya bisa dicek kembali di Bab 7: Panduan di Madinah. Sesampainya di sana, kami harus antre terlebih dahulu untuk giliran naik. Prosesnya cukup teratur, tinggal menunggu dipanggil sesuai antrian.

Menurut kami, reservasi pukul 17.00 ini benar-benar pas. Karena saat sampai di atas, suasananya sudah mulai mendekati sunset. Cahaya matahari perlahan turun dan langit mulai berubah warna. Dari atas sana, pemandangan kota Madinah terlihat luas dan tenang sekali. Lampu-lampu kota mulai menyala pelan, sementara langit masih menyisakan warna hangat matahari sore.

Di area atas juga ada cafe, jadi kami sempat duduk sambil minum kopi hangat dan menikmati suasana. Anginnya cukup dingin, tapi justru membuat suasana terasa nyaman. Menurut kami, ini salah satu momen paling tenang selama di Madinah.

Di area bawah Jabal Uhud Experience juga cukup ramai. Banyak cafe-cafe lokal dengan konsep outdoor yang suasananya nyaman untuk duduk santai sore hari. Selain itu, ada juga resto Indonesia milik orang Indonesia, dan waktu kami datang tempatnya ramai sekali, banyak jamaah Indonesia makan dan nongkrong di sana. Kalau ingin sholat, di area bawah cafe juga tersedia mushola, jadi cukup nyaman kalau memang ingin lebih lama menikmati suasana di sana tanpa perlu buru-buru kembali.

Hari Terakhir — Pulang

20 Januari 2026: Masjid Quba & Perjalanan ke Jeddah & Flight Menuju Jakarta

Di hari terakhir ini, jujur kami sempat bingung pagi harinya ingin ke mana. Akhirnya kami memutuskan ke Masjid Quba lagi. Selain karena suasananya memang tenang, kami juga ingin kembali melaksanakan sholat di sana untuk mengikuti sunnah

“Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah." (HR. Ibnu Majah, no. 1412).”

Setelah dari Quba, kami kembali ke hotel untuk bersiap menuju Jeddah menggunakan NW Bus. Kami memilih NW Bus karena dari beberapa pilihan transportasi, hanya NW Bus yang memiliki tujuan langsung ke Terminal 1 Jeddah Airport, jadi lebih praktis untuk penerbangan internasional.

Dari hotel menuju terminal bus, kami menggunakan Uber. Karena barang bawaan kami cukup banyak, kami memilih tipe mobil XL. Biayanya sekitar 45 SAR, memang cukup mahal, tapi menurut kami lebih nyaman dibanding memaksakan mobil kecil dengan koper yang banyak.

Untuk tiket bus, kami membeli secara online, dan cara pembeliannya sudah dijelaskan di Bab 3. Sesampainya di terminal, kami tidak menunggu terlalu lama, sekitar 30 menit bus sudah datang. Di terminal bus juga cukup nyaman karena ada beberapa toko kecil yang menjual makanan ringan, mainan, dan minuman.

Setelah bus datang, kami langsung check-in, menaruh koper ke bagasi, lalu masuk ke dalam bus. Satu hal yang cukup menarik, meskipun di tiket sudah ada nomor kursi, kebiasaan di sana lebih seperti “siapa cepat dia dapat”. Jadi banyak orang langsung memilih tempat duduk sesuai preferensi mereka, meskipun berbeda dengan nomor kursi di tiket.

Perjalanan dari Madinah menuju Jeddah memakan waktu sekitar 4 jam. Di tengah perjalanan kami sempat berhenti di rest area untuk makan dan membeli camilan sebentar sebelum lanjut kembali ke Jeddah.

Sesampainya di Terminal 1 Jeddah Airport, kami langsung melaksanakan sholat Maghrib dan Isya terlebih dahulu. Setelah itu suami membeli air zam-zam resmi seharga 12.5 SAR per galon. Lokasi penjualannya ada di counter resmi Zamzam Water di area keberangkatan, salah satunya dekat Gate 310–314.

Kalau datang menggunakan bus, caranya cukup mudah. Dari area kedatangan terminal, cari lift lalu naik ke lantai keberangkatan, kemudian cari area Gate 310–314. Di sana biasanya sudah banyak petunjuk arah menuju counter air zam-zam.

Karena kami bertiga, kami membawa 3 galon air zam-zam, karena aturan umumnya adalah 1 paspor mendapatkan 1 galon. Setelah membeli air zam-zam, kami membeli Al-Baik untuk makan malam sambil menunggu boarding. Tapi ternyata di area bandara menu chicken broast tidak tersedia, jadi hanya beberapa menu tertentu saja yang tersedia.

Setelah check-in dan melewati imigrasi, kami mengikuti petunjuk arah menuju area keberangkatan. Karena waktu boarding masih cukup lama, kami sempat duduk dan beristirahat di area foodcourt bandara.

Sekitar pukul 22.45 kami mulai boarding untuk penerbangan menuju Singapura. Saat transit di Singapura, tidak banyak yang kami lakukan. Kami hanya makan, istirahat sebentar, lalu bersiap melanjutkan perjalanan kembali ke Indonesia.

Bab 9
Pertolongan Allah Itu Lebih Dekat dari Nadi
Semua yang kami takutkan ternyata tidak benar-benar terjadi

Sebelum berangkat, yang paling sering saya pikirkan justru bukan itinerary atau hotel, tapi soal anak. Bisa tidak ya tetap ibadah dengan tenang kalau bawa anak? Takutnya nanti rewel, atau saya tidak bisa fokus. Apalagi ini umroh mandiri — semua kami jalani sendiri tanpa bantuan travel.

Tapi setelah dijalani, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan.

Selama di Mekkah dan Madinah, semuanya terasa cukup dimudahkan. Kami tetap bisa sholat 5 waktu di masjid, tetap bisa ambil waktu untuk ibadah, dan tidak merasa harus mengorbankan anak.

Kami memang tidak selalu pergi bersama. Saya dan suami berpisah terutama di waktu sholat — karena suami selalu mengejar sholat di area Ka'bah. Tapi di sana, justru sering terasa dimudahkan. Beberapa kali, anak saya dijaga oleh askar atau petugas di sekitar, sehingga saya bisa sholat dan berdoa dengan lebih tenang. Di dalam area masjid pun sering ada jemaah lain yang anaknya bisa bermain bersama.

Yang saya kira akan jadi hambatan, ternyata tidak terasa seberat itu.

Di situ saya mulai merasa, mungkin memang kalau sudah diundang, jalannya juga ikut dimudahkan.

Hebatnya, kami tidak perlu bergantian sholat. Kami bisa sama-sama mengikuti sholat berjamaah. Momen bergantian hanya pada saat jadwal masuk ke Raudhah.

Kalau saya lihat ke belakang, yang dulu saya takutkan ternyata tidak benar-benar terjadi. Justru yang terasa adalah kami tetap bisa menjalani ibadah dengan tenang, tanpa harus meninggalkan peran sebagai orang tua.

Kalau ditanya apakah membawa anak itu capek — pasti ada. Tapi tidak sampai menghalangi. Selama kami berdua saling mengerti, semuanya masih bisa dijalani dengan baik.

Dan kalau ada yang bertanya apakah umroh mandiri itu susah — jawabannya bukan susah atau mudah. Jawabannya adalah: kalau sudah tahu caranya, semuanya bisa dijalani.

Buku ini adalah buktinya.

Penutup
Untuk Kamu yang Masih Ragu

Mungkin sekarang kamu sedang menimbang-nimbang. Antara ingin sekali, tapi belum yakin bisa. Antara tertarik mencoba mandiri, tapi takut ada yang kelewat. Antara sudah punya niat, tapi belum tahu harus mulai dari mana.

Kami pernah ada di titik itu juga.

Dan yang kami temukan adalah: umroh mandiri tidaklah semenakutkan itu. Justru di umroh mandiri kami menemukan ketenangan dalam beribadah.

Kami juga percaya bahwa ketika terbesit di dalam hati keinginan untuk umroh maka itu undangan dari Allah, dan percayalah bahwa ketika Allah sudah mengundang maka segalanya akan dimudahkan. Tugas kita hanyalah berikhtiar untuk mempersiapkan segalanya dengan matang.

Lampiran
Referensi
🔗
Link PentingNusuk (nusuk.com) · Harmain Transport (harmaintransport.com) · NW Bus (nwbus.sa/en) · Bus Darb Al Watan (darbalwatan.com)
📱
Aplikasi Wajib Install Sebelum BerangkatNusuk · Careem · Google Maps · Hunger Station · Skyscanner
🗺️
Patokan Lokasi PentingGate 79 (Masjidil Haram, Mekkah) · Gate 338 (Masjid Nabawi, Madinah) · Underpass Gate 79 untuk taxi · WC 6 untuk penitipan barang · P2 Clock Tower untuk makan

Panduan Umroh Mandiri by @umrajourney
Versi 1.0 · May 2026